Tak Ingin Usai di Sini: Romansa yang Mengiris Hati

by Redaksi

Tak Ingin Usai di Sini: Romansa yang Mengiris Hati
EDITOR'S RATING    

Kisah cinta dua sahabat adaptasi dari Negeri Ginseng

Film lokal dengan genre romance atau melodrama bisa dibilang jarang hadir di bioskop kita. Padahal, romance sama menantangnya dengan genre lain. Sama-sama thrilling, bedanya yang ‘dipancing’ adalah rasa haru dan kupu-kupu di perut sehingga kesan yang tertinggal begitu kita melangkah keluar dari ruang teater pun lebih kompleks. Tahun 2025 ini, ada Tak Ingin Usai di Sini yang datang dan siap "menyenggol" banyak rasa di hati. Semakin menjanjikan karena film ini disutradarai dan digarap naskahnya oleh Robert Ronny (The Most Beautiful Girl in the World, Netflix) yang memang cukup berdedikasi dalam menciptakan film romance berkesan.

Berkisah mengenai Kawidra/K (Bryan Domani) dan Clarissa/Cream (Vanesha Prescilla) yang karena takdir, memutuskan berteman sejak SMA. Mereka selalu berdua, bahkan sampai di dunia kerja. Teman-teman dan rekan kerja pun paham keduanya tak bisa dipisahkan. Saat K sakit parah dengan umur yang tinggal menghitung bulan, ia memutuskan mencari calon suami untuk Cream. Begitu Armand (Rayn Wijaya) hadir dengan segala kesempurnaannya di hadapan Cream, K perlahan mulai menata hati untuk melangkah pergi. Namun, diam-diam Cream mencoba berdamai dengan keadaan lewat caranya sendiri. 

Bukan kisah original, Tak Ingin Usai di Sini merupakan adaptasi film More Than Blue (2009) yang sampai sekarang masih termasuk film sedih dari Korea Selatan yang berkesan. More Than Blue juga sudah diadaptasi ke serial Taiwan dan film di Filipina. Bagi yang sudah pernah menonton, jelas akan terasa beberapa flashback adegan. Banyak adegan serupa dan familiar, baik itu dari pengucapan atau sudut pengambilan gambar karena di situlah letak kekuatan dan twist dari film ini. Bagusnya, Robert Ronny berhasil memoles keseluruhan TAKIS dengan ‘rasa’ dan tampilan yang lebih Indonesia tanpa mengurangi makna (dan efek kesedihannya). Karena itu, saat twist demi twist muncul, Tak Ingin Usai di Sini bisa memberikan efek sesak yang sama hebatnya buat penonton. Lewat durasi 1 jam 48 menit, dijamin penonton akan berkali-kali mengusap air mata.


Dari sisi akting, dipilihnya Bryan Domani sebagai K patut diacungi jempol. Di versi asli, Kwon Sang Woo dikenal sebagai aktor yang memiliki ‘mellow eyes’ karena kemampuannya berakting sedih hanya lewat tatapan mata. Lewat TAKIS, Bryan Domani berhasil memberikan mikro ekspresi yang detail dan tidak terlihat akting. Satu scene paling kuat hadir di adegan fitting baju pengantin saat Bryan bisa mengekspresikan beberapa layer kepedihan yang dirasakan K tanpa dialog atau gerak tubuh yang berlebihan.

Di sisi lain, Vanesha Prescilla juga mampu memberikan warna baru untuk karakter Cream. Sifatnya yang manja, tulus, dan juga tegar dieksplorasi dengan baik dan akhirnya diekspresikan dengan pas di setiap adegan tanpa terlihat clingy dan annoying. Terlihat sekali karakter Cream dan K di TAKIS ini ‘dewasa sebelum umurnya’ dan bisa meng-handle semua perasaan yang akan dialami karena sebelumnya sudah ditempa takdir yang berat.


Davina Karamoy dan Rayn Wijaya berhasil memberikan napas baru sebagai dua pemeran pendukung. Sama seperti versi original, karakter keduanya sama kuat dan memberi impact meski durasi kemunculannya tidak terlalu lama. Hadirnya Rossa yang sekaligus melakukan debut akting juga bisa jadi daya tarik tersendiri. Ditambah adanya lagu “Aku Baik Saja” yang merupakan OST. dan dijadikan benang merah kuat dalam inti cerita.

Secara keseluruhan, Tak Ingin Usai di Sini bisa dibilang film yang berkesan dan membekas di hati. Mengajarkan penonton untuk menghargai waktu yang dijalani bersama orang tersayang dan bagaimana juga selanjutnya cara kita mengingat keberadaan orang itu saat sudah tidak ada lagi yang menemani. Jangan lupa bawa satu pak tisu sebelum menonton film ini.