Alvin and The Chipmunks: The Road Chip - Film Keluarga Akhir Tahun yang Tidak Menawarkan Banyak Hal Baru

by dr. kawe

Alvin and The Chipmunks: The Road Chip - Film Keluarga Akhir Tahun yang Tidak Menawarkan Banyak Hal Baru
EDITOR'S RATING    

Alvin, Simon, dan Theodore jelas punya segudang tingkah dan kelucuan untuk menarik hati banyak kalangan. Namun, apakah hal ini tetap berhasil menarik pundi uang di film ketiganya, terutama saat harus berhadapan dengan Star Wars Episode VII?

Apa hebatnya sih tupai bernyanyi sampai bisa dibuatkan tiga filmnya? Untuk Jelata yang besar pada periode 1990-an tentulah mengerti benar akan jawaban dari pertanyaan tersebut. Sama halnya, seperti Smurfs hingga Peanuts, Alvin dan kawan-kawannya memiliki tempat tersendiri di hati generasi 90-an. Dan, untuk kali ketiga, mereka menyambangi bioskop dengan mengambil subjudul The Road Chip.

Alvin, Simon, dan Theodore mendapat kejutan dari “ayah angkat” mereka, Dave, berupa seorang wanita yang ia pacari. Senang bisa mendapat “ibu” baru, kegembiraan tiga bersaudara ini berubah ketika tahu bahwa Samantha memiliki seorang anak cowok bernama Miles yang tidak segan-segan berbuat iseng kepada mereka. Masalah semakin runyam ketika Alvin, Simon dan Theo memergoki Dave baru saja membeli sebuah cincin yang artinya mimpi buruk karena mereka akan tinggal satu rumah dengan Miles sebagai saudara. Tidak ingin hal ini terjadi, satu manusia dan tiga tupai ini sepakat untuk menempuh perjalanan ke Miami guna membatalkan pertunangan tersebut.

Tidak perlu mengerutkan kening atau memikirkan alur kisah yang penuh dengan simbol-simbol yang sulit dipahami. Film ini menyajikan kisah yang ringan, mudah ditebak, dan tentu saja tanpa twist yang jawdropping. Selain menjual keimutan para tupai jantan dan betina, film berbujet 90 juta dolar ini juga memasang berbagai lagu populer yang tentunya sering Jelata dengar beberapa bulan belakangan, seperti “Uptown Funk” dari Bruno Mars.

Sayang, dikarenakan kisahnya yang ringan dan hanya mengandalkan dua faktor di atas, film ini hanya dapat dinikmati oleh pangsa pasar tertentu ataupun penggemar berat Alvin & The Chipmunks. Orang dewasa yang datang untuk menyaksikan film ini mungkin hanya tersenyum di beberapa adegan, tapi selebihnya akan merasa bahwa lelucon yang ada tidak terasa lucu untuk ditertawakan. Selain itu, tentu saja penyelesaian konflik yang teramat gampang akan membuat Jelata bertanya-tanya kemudian pada akhirnya akan berkata “ah sudahlah, namanya juga film.” Namun, keberanian mereka untuk rilis berdekatan dengan Star Wars VII: The Force Awakens patut diacungi jempol. Jika naskah ditata dengan lebih baik lagi, bukan mustahil Alvin, Simon, dan Theodore dapat mencuri sedikit pundi-pundi dari film yang overhype tersebut.

Jelata bosan dengan Star Wars VII: The Force Awakens? Mungkin tiga tupai bernyanyi ini bisa Jelata pilih sebagai tontonan di waktu liburan. 

Artikel Terkait