Animasi heboh, rusuh, tapi manis dan memanjakan mata!
Satu lagi kisah buku cerita anak Dr. Seuss yang diangkat ke layar lebar. Setelah Horton Hears a Who! (2008), The Lorax (2012), dan The Grinch (2018) dibuat dalam bentuk animasi, kini giliran karya klasik Dr. Seuss dengan tokoh yang paling terkenal, The Cat in the Hat. Menggandeng duo sutradara sekaligus penulis naskah Erica Rivinoja (Borat 2) dan Alessandro Carloni (Kung Fu Panda 3), film ini berhasil hadir dengan penuh keceriaan. Aftertaste-nya pun sama seperti setelah membaca versi bukunya meski dalam eksekusi, produksi Warner Bros. Animation ini jauh lebih chaotic, meriah, dengan beberapa scenes yang mengingatkan pada judul film tertentu.
Cat in the Hat (suara diisi Bill Hader) adalah salah satu karyawan di I.I.I.I. (Institute for the Institution of Imagination and Inspiration). Perusahaan ini bertanggung jawab dalam menjaga imajinasi, cita-cita, dan keceriaan yang ada dalam diri anak-anak. Cat in the Hat sedang kena SP karena pekerjaannya dinilai berantakan oleh sang bos, Mr. Hoogeboom (Giancarlo Esposito). Sebagai misi terakhir sebelum dipecat, Cat in the Hat ditugaskan ke rumah kakak beradik Gabby (Xochitl Gomez) dan Sebastian (Tiago Martinez) yang sedang bersedih karena baru pindah rumah. Misinya satu: membuat Gabby dan Sebastian ceria seperti dulu tanpa membuat keributan dan kekacauan. Jika mereka bahagia tapi kondisi rumah berantakan, Cat in the Hat akan langsung dipecat. Tak disangka, saat merapikan rumah, ada banyak rahasia dari 3 kardus milik Gabby, Sebastian, dan sang ibu Carmen (America Ferrera) yang belum sempat dibongkar. Berbagai benda di dalam kardus ini akan membawa Cat in the Hat, Gabby, Sebastian, dan ikan kesayangan Sebastian bernama Waffles (Matt Berry) ke petualangan seru yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
Dari menit pertama, The Cat in the Hat sudah memukau mata lewat warna-warni dan keriuhan yang ada di dalam kantor I.I.I.I. Para karyawan terdiri atas berbagai jenis hewan yang bisa bicara. Masing-masing punya ciri khas aksesoris merah-putih bergaris yang berbeda jenisnya. Perbedaan karakter juga sangat ditonjolkan di sini, terasa mirip dengan karakter manusia pada umumnya. Ada yang ekstrovert, ada yang antisosial, ada yang sombong, ada juga HRD yang berusaha baik dan berpihak pada karyawan. Bagi penonton dewasa, gestur dan celetukan karyawan I.I.I.I. dipastikan bisa memancing tawa.

Warna yang kontras langsung ditunjukkan begitu dunia aneh ini bersanding dengan kehidupan manusia yang dijalani Gabby dan Sebastian. Semua kelabu, minim ekspresi, dan tidak menarik karena manusia hidup dengan rutinitas membosankan. Imajinasi dan keceriaan yang seharusnya ada dalam diri anak seperti hilang ditelan gadget. Dari bagian ini, color grading dan teknik animasi dalam The Cat in the Hat langsung terasa berbeda dengan animasi adaptasi Dr. Seuss lainnya yang cenderung cerah dengan warna lembut.
Di sepanjang film, warna merah, hitam, putih, dan biru sangat mendominasi namun tidak membuat sakit mata. Hadirnya Thing One dan Thing Three sebagai asisten Cat in the Hat juga semakin memeriahkan jalan cerita. Tingkah laku Thing One, Thing Three (dan Things lainnya) sedikit banyak mengingatkan pada Minions di Despicable Me. Rusuh, agak bodoh dengan ukuran badan berbeda-beda, berdialog dengan bahasa sendiri, dan ‘ringan tangan’ alias mudah menampar dan memukul sesama. Bedanya, secara visual Things lebih imut dan fluffy.
Canggihnya alat milik perusahaan juga tak kalah menarik perhatian. Ada Mess-O-Meter yang bisa menghitung kinerja karyawan, sampai stopwatch Go-Backer yang mengingatkan pada kalung Time Turner di film Harry Potter dengan ‘efek samping’ dahsyat bagai Eye of Agamotto milik Doctor Strange. Semua alat dimanfaatkan secara maksimal oleh The Cat, Gabby, Sebastian, dan Waffles untuk ‘menjelajah’ isi kardus dan melawan The Something, makhluk mengerikan yang terjebak di dalam kardus.

Satu karakter yang berhasil mencuri perhatian adalah Waffles si ikan mas peliharaan yang bisa bicara dengan aksen British. Sifatnya yang sedikit snob namun sangat setia kawan dijamin bisa berkali-kali memancing tawa. Beberapa kali timing kemunculannya sukses membuat studio hening lalu pecah oleh tepuk tangan. Sepanjang durasi 107 menit, film The Cat in the Hat menyuguhkan plot yang rapi dengan konflik dan penyelesaian yang pas. Karakter Cat in the Hat yang bawel jelas mewarnai hampir sepanjang film. Namun, bawelnya The Cat tidak terasa mengganggu karena dialog yang ditampilkan penuh makna. Celetukan lucu ala humor slapstick juga sering muncul, membuat pace film terasa cepat dan tidak membosankan.
Overall, sebagai film animasi, The Cat in the Hat sangat mampu menghibur semua umur. Dialognya yang sederhana namun punya makna tersirat bisa dinikmati anak-anak dan memberi kesan mendalam di hati penonton dewasa. Banyak pesan yang bisa diambil, salah satunya mengingatkan kita bahwa setiap orang punya spark dan impian yang tersimpan rapat di dalam hati. Meski terkadang hidup berjalan tidak sesuai dengan yang kita mau, yakinlah kita bisa menjalani dengan bahagia, selama ada rasa curiosity dalam diri kita.
