Proyek debut yang mantap dari Pal8 Pictures!
Tahun 2025, Tempo Media Group membuat gebrakan lewat peluncuran rumah produksi Pal8 Pictures dan 5 judul film yang siap diproduksi. Salah satunya adalah film panjang Laut Bercerita, yang diadaptasi dari novel laris berjudul sama karya Leila S. Chudori. Kabar ini jelas menarik perhatian karena Laut Bercerita punya base penggemar yang besar dan sudah naik cetak hingga 116 kali. Ditambah lagi, pemutaran film pendek "Laut Bercerita" (2017) yang diperankan Reza Rahadian juga selalu diminati meski tayang dalam format terbatas. Mengangkat kisah ‘pil pahit’ yang dirasakan banyak orang saat menyuarakan perlawanan terhadap pemerintah, Reza pun kembali ditunjuk sebagai pemeran Biru Laut.
Laut anak pertama dari dua bersaudara yang kuliah di jurusan Sastra Inggris UGM, Yogyakarta. Di kampus, Laut ikut organisasi Winatra, kelompok diskusi buku bagi mahasiswa yang punya tujuan sama: kebebasan berekspresi. Para anggota Winatra juga vokal memberi dukungan langsung bagi kaum tertindas, terutama buruh dan petani. Saat kelompok Winatra mulai diincar aparat karena dinilai terlalu ‘berisik’, Laut dan beberapa anggota Winatra memutuskan berpencar ke beberapa kota. Sayangnya, pergerakan mereka berujung tragis karena Laut, Kasih Kinanti (Dian Sastro), Alex Perazon (Ben Nugroho), Daniel Tumbuan (Kevin Julio), Sunu Dyantoro (Dewa Dayana), dan kawan lainnya mendadak hilang tanpa kabar. Bertahun-tahun, sang adik Asmara Jati (Yunita Siregar), kedua orang tua Laut (Arswendy Bening Swara & Christine Hakim), dan sang kekasih Ratih Anjani (Eva Celia) menunggu pulangnya Laut ke rumah.
Menggarap film dengan tema berjuang melawan ketidakadilan memang tidak mudah. Harus ada keteguhan dan semangat yang besar untuk menyuarakan apa yang ada, sejujur-jujurnya. Berlatar Indonesia di akhir 1990-an, persoalan yang diangkat dalam Laut Bercerita masih relevan hingga sekarang. Bagaimana tulusnya generasi muda, memilih berjuang dan berani menuntut perubahan dari ketidakadilan yang merugikan banyak orang. Bagaimana gamangnya para pemuda saat ada di persimpangan antara terus berjuang atau memilih pulang. Dan, bagaimana tangguhnya keluarga dalam mempertahankan keyakinan, rasa sabar, lalu perlahan menghadapi kehilangan.

Yosep Anggi Noen sebagai sutradara dan penulis naskah mampu meng-capture itu semua dalam narasi yang tidak dilebih-lebihkan. Meski minim dialog, banyak elemen yang bisa dirasa. Membuat penonton merasakan sedih dan sesak yang sama, serta rasa marah yang bergemuruh di dada. Laut Bercerita berhasil memberi gambaran, perjuangan bukan hanya dilakukan oleh orang yang turun ke jalan dan berdiri di garda terdepan. Tetapi juga dilakukan oleh orang yang ikut bergerak, terus menjaga ingatan, dan yang tetap teguh menunggu kabar kepastian untuk pulang meski bertahun-tahun lamanya.
Sama seperti film adaptasi lainnya, ada beberapa adegan yang akan terasa kurang atau mengganjal bagi yang sudah membaca novel Laut Bercerita. Banyaknya karakter dalam organisasi Winatra juga cukup ‘menantang’ penonton awam untuk menghafal nama-namanya. Tone gelap khas garapan Anggi Noen juga muncul di beberapa adegan, membuat penonton harus mengandalkan cahaya remang untuk tetap fokus mengikuti alur film. Meski perjuangan generasi muda jadi api utama Laut Bercerita, film ini justru lebih menekankan pada emosi dan reaksi keluarga dan orang terdekat dalam menghadapi ‘efek samping’ setelah hilangnya Laut. Siapkan tisu untuk satu jam terakhir karena emosi penonton akan diaduk lewat banyak rasa yang ditumpahkan Biru Laut, keluarga, dan teman-teman dari Winatra.
Soal akting, jelas penampilan Reza Rahadian sebagai Laut jadi highlight utama. Reza mampu menghadirkan Laut yang hangat karena tumbuh besar dari keluarga harmonis, sedikit manja terhadap orang tua dan adiknya, namun juga punya jiwa kepemimpinan dan mampu melindungi teman-teman Winatra. Ada satu adegan yang cukup eksplisit, membuat penonton ikut merasakan pedih yang dirasakan Laut. Penampilan karakter lain juga tak kalah apik, terutama Yunita Siregar sebagai Asmara Jati yang tegar sebagai tiang keluarga, Ben Nugroho sebagai Alex Perazon sahabat Laut sang pelipur lara, serta Iswadi Pratama sebagai Mata Merah.

Faktor lain yang mendukung mood cerita di sepanjang durasi 2 jam 15 menit adalah scoring musik latar dan pemilihan lagu yang dipilih. Applause untuk sang komposer Ofel Obaja yang turut membangun ketegangan dan kesedihan di beberapa scene hingga terasa lebih menusuk. OST “Matilah Kau Mati’ yang dinyanyikan Efek Rumah Kaca juga dijamin akan terus bergema di dalam telinga begitu film selesai diputar. Tim artistik juga patut diacungi jempol terutama dalam mengolah set latar tahun 1997-1998 secara natural, tidak dilebih-lebihkan. Hadirnya pager sebagai alat komunikasi utama, taksi kuning, hingga furniture lawas di rumah.
Overall, Laut Bercerita adalah film yang patut diapresiasi keberaniannya karena berhasil mengangkat isu penting di negara kita, yaitu soal kebebasan berpendapat dan penculikan aktivis. Bisa dibilang, ini tontonan wajib bagi kita yang ingin ‘melek’ soal apa yang terjadi di luar sana. Meski berlatar pemerintahan di era 1998, premis yang diangkat masih sangat relevan dengan yang diperjuangkan banyak orang di masa sekarang. Ini juga sekaligus jadi langkah solid untuk Pal8 Pictures sebagai rumah produksi yang berani mengangkat tema drama politik sebagai proyek pertama. Semoga di masa nanti, akan semakin banyak film sejarah yang tidak cuma mengangkat biografi pahlawan dengan nama besar. Karena sebenarnya, banyak peristiwa yang punya dampak tak kalah besar dimulai dari kalangan bawah, kalangan yang masih dipandang sebelah mata, yaitu anak muda.
