The Lion King: Kisah Raja Hutan yang Belum Sanggup Mengungguli Animasinya

by Raga Atsmara

The Lion King: Kisah Raja Hutan yang Belum Sanggup Mengungguli Animasinya
EDITOR'S RATING    

Perebutan kekuasaan di tengah hutan yang minim ekspresi

Petualangan Simba menjadi raja di film animasi legendaris Disney yang berjudul The Lion King kini kembali dengan versi live-action disutradarai Jon Favreau yang sebelumnya pernah menggarap The Jungle Book (2016) versi live-action. Tentunya pencinta film The Lion King akan diajak bernostalgia dengan kembalinya cerita tentang lingkaran kehidupan di Pride Land. Tidak hanya kisahnya, soundtrack The Lion King juga menjadi legendaris karena sangat menyentuh.

The Lion King masih mengikuti cerita animasinya tentang kehidupan di Pride Land yang dipimpin oleh Mufasa, raja hutan, yang baru saja memiliki anak pertama bernama Simba. Namun, tidak semua hewan menyukai kelahiran Simba sebagai penerus tahta. Scar, saudara Mufasa, merasa bahwa Simba telah mengambil haknya sebagai raja selanjutnya. Pengkhianatan pun terjadi.

Seperti yang sudah dilakukan sebelumnya oleh Favreau, The Lion King mengikuti tipikal CGI yang sama dengan menghadirkan wujud hewan yang realistis. Namun, bisa dibilang inilah kekurangan The Lion King. Para karakter terlihat begitu datar dan tanpa emosi sehingga beberapa adegan susah diresapi, terutama adegan emosional dan adegan menyanyi. Tidak hanya itu, film ini terkesan buru-buru. Banyak sekali momen yang seharusnya bisa dibangun dengan lebih baik lagi untuk meningkatkan emosi penonton, selesai begitu saja.


Nostalgia akan semakin terasa melalui kembalinya James Earl Jones yang mengisi suara Mufasa, sama seperti animasinya. Donald Glover dan Beyonce Knowles-Carter pun berhasil menyuarakan karakter Simba dan Nala dengan baik. Suara serak Beyonce di sini membuat karakter Nala terlihat lebih berani dan dewasa. Tidak lupa, Chiwetel Ejiofor pun berhasil menghadirkan karakter Scar yang sangat tegas, berbeda dari animasinya yang lebih tenang. Aransemen ulang lagu-lagu legendaris seperti “Hakuna Matata” atau “Can You Feel The Love Tonight” memberikan nuansa yang lebih modern. Bisa jadi ada yang suka, namun bisa jadi sebagian lebih memilih aransemen lama.

The Lion King memang membuat para penggemarnya yang tumbuh bersama kisah perebutan kekuasaan raja hutan ini akan kembali bernostalgia. Namun, menghadirkan film live action hewan dan manusia tentu ada perbedaannya dan yang terlihat signifikan adalah minimnya ekspresi para hewan. Meski tidak bisa dikatakan buruk, tapi The Lion King mungkin bukan remake live action terbaik Disney. Animasinya terlalu indah untuk dibuat ulang. Tonton tanpa ekspektasi apa pun dan nikmati saja lagu-lagu indah yang mengalun sepanjang film, maka dijamin kita akan terhibur.


Artikel Terkait