Saatnya menertawakan diri di atas panggung!
Belakangan ini, film Indonesia sudah semakin berani "mencolek" buruknya hubungan orang tua-anak lewat skenario menohok. Sebut saja Home Sweet Loan, Bolehkah Sekali Saja Kumenangis, sampai judul yang lumayan men-trigger seperti Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah. Kali ini, Aco Tenri lewat debut penyutradaraannya menyuguhkan hubungan pahit anak perempuan dan ayahnya dalam format drama komedi, Suka Duka Tawa. Membawa kehidupan komika sebagai latar, serta jajaran stand-up comedian sebagai cast, film ini cukup menarik perhatian. Ditambah, film yang naskahnya juga digarap Aco bersama Indriani Agustina ini mendapat sambutan baik saat premiere di penutupan JAFF Jogja 2025 lalu. Poster dan teasernya selalu menarik, apakah keseluruhan filmnya juga menarik?
Tawa (Rachel Amanda) tumbuh besar dan hidup pas-pasan bersama ibu Cantik (Marissa Anita). Ayahnya, Keset (Teuku Rifnu Wikana), pergi sejak Tawa masih kecil (diperankan Myesha Lin) dan kini sangat beredar sebagai komedian TV. Tawa yang fatherless menyebut dirinya sebagai yatim pasif. Saat terbentur dengan materi komedi yang ingin disampaikan di panggung stand-up, Tawa mendadak dapat ide: bagaimana jika nasib dan hubungan buruknya dengan sang ayah diangkat jadi bahan lelucon? Tanpa Tawa tahu, keputusannya malah membuat dirinya dihadapkan dengan problem baru, terkait dirinya, ibunya, ayahnya, teman-temannya, serta integritasnya sebagai stand-up comedian.
Aco Tenri yang biasa menyutradarai video klip dan series kini melakukan debut sebagai sutradara film panjang dan hasilnya cukup terlihat di Suka Duka Tawa. Beberapa gambar diciptakan seperti bercerita meski tidak ada dialog. Sudut gambarnya juga menarik sehingga rasanya seperti melihat akumulasi proyek-proyek Aco sebelumnya. Sederhana, jujur, dan tidak cuma menonjolkan komedi, tapi juga tentang luka serta jarak emosional orang tua dan anak.

Sayangnya, meski film ini diisi karakter komedian, humornya justru terasa redup. Beberapa bagian malah tidak terasa lucu. Punchline yang diucapkan Tawa saat di panggung juga jarang membuat gerrrr penonton. Hadirnya komika Arif Brata (Rais/Nasi), Gilang Bhaskara (Fachri), Bintang Emon (Iyas), dan Enzy Storia (Adin) pun seakan hanya sebagai pelipur Tawa lewat beberapa celetukan (dan suara tertawa) spontan, alih-alih memberikan kelucuan dengan gaya berbeda.
Ada satu adegan yang lumayan pecah antara Arif Brata dan Enzy Storia yang cukup memancing tawa penonton. Namun setelah itu, suasana hening lagi. Humor yang bisa dibilang paling sukses membuat penonton tertawa justru muncul dari adegan-adegan absurd yang tiba-tiba, serta beberapa cameo dari aktor, aktris, dan komedian dengan ciri khas masing-masing.

Unsur paling kuat dalam Suka Duka Tawa justru di lingkaran drama antara anak-bapak-ibu yang rumit dan bikin sesak hati. Cara Tawa yang mencari proses penyembuhan diri dari sosok Keset, cara Keset yang ternyata sedang berusaha memperbaiki kesalahan, dan Cantik yang diam-diam memendam rasa bersalah dan penyesalan. Siap-siap, di paruh kedua ada beberapa adegan yang bisa memancing air mata. Closure yang diberikan pun cukup baik, membuat film ini ditutup dengan rasa hangat yang membekas di hati.
Secara keseluruhan, Suka Duka Tawa bisa menjadi film debut yang membanggakan untuk Aco Tenri. Meski ada kekurangan di sana-sini, namun tipe cerita ini mampu ‘memeluk’ dan meninggalkan ‘rasa’. Cukup tonton dengan mata dan hati terbuka, jangan terlalu berharap komedi yang berlebihan. Karena pada akhirnya, ini adalah film tentang suka duka anak perempuan yang ingin memperlihatkan rasa marah dan rindunya ke sosok ayah lewat cara yang tidak biasa.
