Anaconda: Reboot Film Monster Cult yang Terasa Segar

by Redaksi

Anaconda: Reboot Film Monster Cult yang Terasa Segar
EDITOR'S RATING    

Empat sekawan yang punya cita-cita membuat ulang film ular raksasa.

Jauh sebelum banyak film tentang hewan mematikan, Anaconda (1997) bisa dibilang pelopornya. Mengetengahkan perburuan ular raksasa di hutan Amazon, film yang dibintangi oleh Jennifer Lopez, Ice Cube, Owen Wilson, dan Jon Voight ini ternyata disukai, bahkan dari bujet $45 juta bisa mendapat pemasukan $136.8 juta. Sudah bisa ditebak, bermunculanlah sekuel-sekuelnya, yaitu Anacondas: The Hunt for the Blood Orchid (2004), Anaconda 3: Offspring (2008) dan Anacondas: Trail of Blood (2009). Tentu saja, tidak ada yang bisa menyamai kesuksesan originalnya. Selang 16 tahun kemudian, Sony Pictures pun memutuskan untuk me-reboot Anaconda original dengan menyertakan deretan bintang ternama sebagai cast-nya: Jack Black, Paul Rudd, Thandie Newton, dan Steve Zahn. 

Doug, Griff, Claire, dan Kenny adalah empat sahabat yang hidupnya terasa monoton dan jalan di tempat. Griff hanya jadi aktor dengan peran kecil dan tidak penting, Doug yang ingin jadi sutradara malah terjebak membuat video pernikahan membosankan, Claire baru bercerai dari suaminya, dan Kenny bergelut dengan kebiasaannya teler. Namun, mereka semua punya satu kecintaan yang sama: film, lebih spesifiknya Anaconda. Bermaksud mengejar mimpi masa kecil mereka, empat sekawan ini memutuskan membuat ulang Anaconda dengan bujet dan kru seadanya. Tentu saja, proses syuting yang mereka lakukan tidak berjalan mulus karena banyak halangan yang menanti, terutama seekor ular besar mematikan yang siap memangsa semua makhluk hidup. 

Jika kebanyakan film reboot mengulang kisah originalnya, dengan bintang baru dan sedikit perbedaan, Anaconda versi 2025 ini berbeda. Film ini menceritakan usaha Doug dan Griff dalam membuat ulang film monster cult tersebut, lengkap dengan berbagai kesulitan yang terjadi di baliknya, seperti bujet, usaha mencari ular besar asli, berakting di tengah hutan, hingga perubahan mendadak di tengah syuting karena skrip yang diganti. Tidak hanya itu, bahkan mereka dengan berani menyinggung soal hak cipta yang bisa dibilang menjadi salah satu "bola panas" di Hollywood, di mana studio-studio besar berusaha mencari IP baru atau malah membeli IP dari lawannya dengan harga besar. Namun, tidak hanya kritik, ada pula easter egg seputar dunia perfilman di Amerika sana, seperti dialog, musik, poster, dan homage terhadap beberapa film tertentu. Jadi, pasang mata dan telinga lebar-lebar agar tidak terlewat easter egg yang dihadirkan. 


Jika film originalnya lebih fokus pada drama dan ketegangan, Anaconda terbaru ini agak berbeda. Mengingat pemainnya adalah Jack Black dan Paul Rudd, maka selain drama dan ketegangan, genre film ini tentu bertambah satu, yaitu komedi. Bahkan, di tengah adegan tegang pun, penonton masih dibawa terbahak-bahak. Dua pemain lainnya, Thandie Newton dan Steve Zahn, meski porsinya tidak sebesar Black dan Rudd, namun tetap dapat momennya sendiri. Rusuhnya empat orang ini saat melarikan diri dari ular raksasa di hutan Amazon akan mengingatkan kita pada film Black lain, Jumanji

Meski pertengahan ke belakang cerita berjalan dengan cepat dan seru, namun bagian depan terasa lambat sehingga berpotensi membuat orang bosan. Namun, begitu sudah memasuki babak kedua, saat berhadapan dengan ular raksasa dan harus memutar otak untuk melarikan diri, plot mulai terasa lebih hidup. Lagipula, memang itu yang ditunggu orang-orang bukan? Ular raksasa mematikan yang mengejar dan melahap orang-orang.

Secara keseluruhan, Anaconda berhasil menjadi reboot yang berbeda dalam perfilman Hollywood yang penuh reboot, remake, dan sekuel. Pendekatan unik yang tidak sekadar mengulang cerita originalnya membawa hal segar dan jelas hiburan yang menyenangkan. Kalau kalian tumbuh dengan menonton Anaconda (1997), versi 2025 ini jelas jangan sampai dilewatkan.