Pasrah, lari, atau mencari tahu yang terjadi saat bencana melanda?
Setelah lepas dari Star Wars, Daisy Ridley punya banyak proyek dan pilihan film yang beragam, mulai dari genre aksi/sci-fi (Chaos Walking), aksi (Cleaner), hingga yang terbaru horor-thriller (We Bury the Dead). Syuting yang sepenuhnya dilakukan di Albany, Australia barat ini mengangkat kisah Ava, seorang warga Amerika yang mencari suaminya yang hilang saat insiden besar itu terjadi. Bagi penyuka film zombie, tentu berharap bahwa film ini akan sama tegangnya dengan kisah sejenis. Sayangnya, bukan itu yang terjadi.
Sebuah insiden melanda Hobart, Tasmania. Pemerintah Amerika tidak sengaja meledakkan senjata eksperimental, membunuh semua penghuni di sana. Namun, tidak semuanya mati karena ada beberapa yang akan bangun lagi akibat saraf mereka belum berhenti secara total. Di tengah situasi itu, Ava menjadi sukarelawan yang bertugas mengubur para jenazah. Namun, kepergian Ava ternyata bukan hanya untuk misi kemanusiaan, tapi sekaligus mencari suaminya yang sedang dalam perjalanan dinas ke sebuah resor di ujung Tasmania. Dalam perjalanannya, banyak hal yang akan ditemukan Ava. Mulai dari mendapatkan rekan baru, bertemu mayat hidup, hingga akhirnya menemukan penutup dari pencariannya selama itu.
Jika mencari tontonan zombie yang bertensi tinggi dan penuh aksi, seperti Resident Evil atau 28 Years Later, maka sudah dipastikan akan kecewa. Film ini lebih condong ke arah drama dengan berfokus pada perjalanan Ava dalam mencari suaminya. Sementara, zombie hanya muncul sesekali. Nyaris 90 menit durasi film, didominasi 80% oleh drama. Kemunculan zombie memang ada beberapa, tapi kebanyakan "bersifat" jinak. Momen tegang saat ada zombie yang menyerang pun hanya satu scene. Jadi, bagi yang berharap tinggi pada film ini, siap-siap kecewa. Meski begitu, penampakan zombie di sini cukup menyeramkan sehingga kemunculan mereka yang berdiri diam saja bahkan sudah bisa membuat penonton agak takut. Menariknya, jika di film-film sejenis, kebanyakan asal-usul zombie berasal dari virus, maka We Bury the Dead menjadikan senjata eksperimental sebagai sebab utamanya. Ada pula penjelasan kenapa sebagian dari mereka ada yang bangkit kembali dan kenapa sebagian benar-benar mati.

Namun, jika kita menyukai drama soal hubungan dan tidak peduli dengan plot zombie yang terasa hanya sempalan, maka bisa jadi akan menikmati film ini. Penonton dibawa mengikuti perjalanan Ava dan niatnya yang begitu besar dalam mencari sang suami. Akan tetapi, perlahan-lahan, kita akan diajak melihat apa yang terjadi sebenarnya di balik pencarian Ava. Bahwa, pernikahannya yang terlihat baik-baik saja, ternyata tidak berjalan semulus yang dikira. Kepergiannya ke Hobart untuk mencari suaminya adalah sekaligus mencari "closure" terhadap hubungan mereka, apakah akan berlanjut atau tidak. Di tengah perjalanannya itu, penonton akan berkenalan dengan Clay dan Riley, dua orang yang ternyata punya "misi" dan kepedihan mereka sendiri.
Pada akhirnya, We Bury the Dead bukan film tentang usaha bertahan hidup di tengah dunia yang kacau karena serangan zombie. Tapi, film tentang pilihan manusia saat dihadapkan pada sebuah insiden tragis. Menerima seperti Clay, menyangkal seperti Riley, atau mencari "penutup" seperti Ava, tidak peduli seburuk apa pun hasil akhirnya nanti. Apa pun pilihannya, pada akhirnya, yang bisa kita lakukan hanya menerima dan memutuskan membuka lembaran baru lagi.
