Kapan lagi melihat Anne Hathaway dan Dakota Johnson satu frame?
Bisa dibilang, 2026 adalah tahunnya Anne Hathaway. Sampai September, aktris yang sedang hamil anak ketiga ini sudah tampil di empat judul film dari production house besar, mulai dari Mother Mary, The Devil Wears Prada 2, The Odyssey, dan The End of Oak Street. Di akhir September ini (awal Oktober untuk penayangan Amerika), ada thriller erotic yang diadaptasi dari novel fiksi dewasa karya Colleen Hoover, Verity. Turut menggandeng Dakota Johnson (trilogi Fifty Shades) dan Josh Hartnett (Oppenheimer) sebagai cast utama, film garapan Michael Showalter (The Idea of You) ini mampu menggiring penonton untuk ikut hanyut dalam cerita hidup seorang penulis novel dan ghost writer-nya yang penuh plot twist.
Verity mengisahkan Lowen Ashleigh (Johnson), penulis novel tidak terkenal yang sedang butuh uang dan tiba-tiba dikontak publisis untuk melanjutkan satu proyek besar sebagai ghost writer. Tidak tanggung-tanggung, proyek itu adalah novel lanjutan milik Verity Crawford (Hathaway), penulis mega best seller yang sudah tidak bisa menulis lagi karena tubuhnya lumpuh. Lowen merasa proyek ini terlalu beresiko. Namun, Jeremy Crawford (Hartnett), suami Verity, mendesak karena gaya penulisan Lowen mirip dengan gaya menulis sang istri. Tanpa Lowen sangka, kontrak dari proyek rahasia ini membuatnya terseret ke dalam satu kenyataan dan berlapis kebohongan yang selama ini disimpan rapat oleh Verity.
Seperti adaptasi novel fiksi dewasa pada umumnya, Verity kental dengan adegan yang membuat tercengang dan menahan napas. Mulai dari yang mengejutkan dan lumayan bikin jump scare, dialog intens dengan latar sunyi dan shoot close-up, hingga beberapa adegan sensual dengan lampu remang-remang yang membuat penonton geleng-geleng kepala. Showalter sebagai sutradara cukup piawai mengolah ketegangan dalam film ini jadi terasa seperti membaca novel lembar demi lembar. Pelan, runut, tapi terasa akan ada sesuatu yang menegangkan di depan. Akan tetapi, berbeda dengan novel yang selalu memberi plot twist besar di akhir, film ini justru lemah dalam mengantar gong besar di akhir cerita. Ketegangan dan kengerian yang sudah dibangun di awal dan tengah justru berakhir dengan hampa dan tidak memberi efek ‘bengong’ saat credit title muncul.

Di sisi lain, Hathaway sebagai titular character Verity Crawford mampu hadir dengan kuat dan membekas. Aura yang ditampilkan sangat berbeda dengan karakternya di film-film terdahulu. Sebagai Verity ia bisa memberikan beberapa lapis karakter sekaligus: bold, angkuh, fierce, namun juga rapuh, tak berdaya, dan rentan terhadap pikiran buruk yang ada dalam dirinya sendiri. Sorot mata yang ditampilkan saat menjadi public figure dan ibu yang diam di rumah sangat bertolak belakang. Tentu, ini ditunjang oleh departemen make up & hair stylist yang mumpuni. Penampilan Verity dengan rambut bergelombang sebahu dan lipstik merah sepertinya bisa jadi gaya ikonik yang dikenang beberapa tahun ke depan.
Latar rumah peristirahatan Verity di tepi danau juga cukup membangun suasana yang sunyi dan private. Seolah memberi kode bagi penonton, tidak akan ada yang tahu soal apapun yang terjadi di sana. Sayangnya, akting Johnson di sini kurang begitu kuat. Beberapa ekspresinya terasa flat dan ‘kosong’, padahal yang dihadapi jelas sesuatu yang mendebarkan (dan mengerikan). Hartnett pun tidak meninggalkan kesan yang mendalam.
Overall, Verity adalah film psychology thriller yang cukup menghibur. Meski tidak terlalu sempurna dalam mengantarkan cerita, film ini mampu memberi ketegangan dan rasa ngeri yang cukup terasa. Patut diingat, karena diadaptasi dari novel dewasa, film ini memiliki rating R yang tidak semua orang bisa menonton.
