Penutup trilogi The Maze Runner ini cukup memuaskan.
Setelah
Twilight, praktis hanya The Hunger Games novel young adult bergenre fantasi yang
sanggup meraih kesuksesan di layar lebar dan dituntaskan hingga babak ketiga.
Kini, menyusul The Maze Runner yang menggenapi
triloginya lewat The Death Cure. Meskipun
sempat marak pasca Twilight booming,
namun kisahnya yang nyaris memiliki tema serupa membuat tidak semua adaptasi
novel tersebut bertahan di pasaran. Sebut saja Divergent, Fifth Wave, The Giver, Vampire Academy, The Mortal
Instruments, hingga Fallen.
Bagi
yang mengikuti dua buku dan film sebelumnya, tentu tidak asing lagi dengan
kisah yang akan dipaparkan The Death Cure
ini. Setelah kabur dari Maze dan masuk ke tahap kedua ujian yang diberikan
WCKD, kini Thomas dan teman-temannya harus menghadapi WCKD langsung sambil
berusaha menyelamatkan Minho dari cengkeraman organisasi jahat ini.
Jika film
pertamanya menghadirkan misteri yang kental, seperti dari mana para remaja ini
berasal, kenapa mereka bisa berakhir di Maze, siapa yang membuat Maze dan apa
tujuannya, maka film terakhir ini bisa dibilang tidak terlalu banyak mengulik
rasa ingin tahu para penonton. Ini adalah perjalanan Thomas dan upayanya dalam
menyelamatkan Minho. Tidak ada misteri yang harus dipecahkan. Just sit and enjoy.

Bagi
yang lupa dengan film kedua, dipersilakan untuk menonton dulu agar ingat dengan
peristiwa-peristiwa pada The Scorch Trial.
Meskipun ada quick recap, namun bisa
jadi kita semakin bingung. Film ini memang tidak ditujukan untuk penonton yang
baru mencoba menonton The Maze Runner di
film ketiga atau skip film kedua meski menonton film pertama. Tidak ada
perkenalan, tidak ada penjelasan. Tensi film digedor sejak awal.
Sayangnya,
apa yang membedakan The Maze Runner sebagai
genre young adult seakan hilang
begitu saja di film ketiga ini. Kita seperti sedang menyaksikan film zombie ala
Resident Evil, meski minim aksi berlebihan
seperti yang diperagakan Milla Jovovich. Meski bergenre fantasi, namun
menjelang akhir, penonton seakan lupa bahwa film ini terjadi di sebuah dunia
distopia. Perseteruan antara si kaya dan miskin hingga jurang ekonomi yang
menimbulkan terjadinya kerusuhan, persis seperti yang mulai terasa di dunia
nyata.
Menariknya,
The Death Cure kerap menghadirkan twist tak terduga sehingga penonton tidak
akan bosan meski durasinya cukup panjang. Pilihan untuk tidak membagi babak
pamungkas ini menjadi dua bagian adalah pilihan yang tepat karena bisa jadi dua
film pecahannya takkan semenarik ini.
Apakah
setelah ini Hollywood kapok mengangkat novel young adult ke layar lebar dan mulai beralih ke genre lain? Kita
tunggu saja.
