Tanpa belas kasihan, tapi tetap ada yang kurang.
Saat kisah tentang John Wick berakhir di film keempat, Lionsgate sadar bahwa menyetop franchise ini bukan pilihan. Selain karena masih disukai, banyak karakter yang bisa dikembangkan menjadi spin-off. Bagaimana tidak, dunia John Wick yang kita kira hanya sepotong kecil di film pertama, ternyata makin meluas dan meluas di sekuel-sekuelnya. Pertanyaannya adalah bagaimana meramu kisah-kisah sempalan ini agar padu dengan dunia originalnya dan tetap menarik? Untuk spin-off pertama, Lionsgate melempar From the World of John Wick: Ballerina (atau judul singkatnya Ballerina) sebelum nantinya disusul spin-off Caine yang mencuri perhatian saat muncul di John Wick 4.
Ballerina berkisah tentang Eve Macarro yang masuk Ruska Roma dan berlatih menjadi pembunuh profesional di sana setelah ayahnya dibunuh oleh sebuah sekte. Setelah menjalankan banyak misi, Eve memutuskan untuk melacak dan membalas dendam orang-orang yang sudah membunuh ayahnya. Tidak hanya itu, Eve juga harus berusaha bertahan hidup dari orang-orang yang dikirim untuk memburunya, termasuk dari pembunuh legendaris, John Wick.
Lewat film ini, satu hal yang kita tahu pasti adalah dunia John Wick kembali diperluas dengan kemunculan kelompok baru. Meski begitu, mereka pun masih tunduk dengan peraturan High Table. Karena itu, di film ini pun, kita masih akan melihat adegan-adegan khas John Wick seperti pengajuan kontrak pemusnahan, Hotel Continental, hingga keping emas sebagai alat pembayaran. Sayangnya, meski masih memasukkan unsur-unsur yang familiar bagi penonton John Wick, film ini bisa dibilang belum sanggup menyamai kekuatan film originalnya.
Sayangnya, film terasa buru-buru membentuk karakter Eve menjadi sosok yang mematikan hanya melalui dua misi. Namun, misinya sendiri tidak terasa believable karena adegan pertarungannya terlihat tidak secepat yang penonton harapkan akan menyamai film John Wick pertama dan misi kedua, hanya diperlihatkan sekilas bagaimana orang-orang sudah bergelimpangan di sekitar Eve tanpa kita tahu bagaimana caranya dia menghabisi mereka semua. Namun sabar, durasi masih panjang. Dengan banyaknya adegan aksi, kita tahu bahwa kemampuan Eve memang hebat. Saking hebatnya, dia bisa melawan nyaris setengah penduduk kota tanpa ada luka yang berarti. Mungkin, kalau diandaikan, Eve adalah Rambo versi cewek.

Jelas, aksi menjadi jualan utama di sini, apalagi dengan tema balas dendam, aneh kalau Eve tidak bertindak secara brutal. Len Wiseman, selaku sutradara, bisa dibilang cukup berhasil dalam menghadirkan banyak adegan perkelahian. Mulai dari memakai pisau, kapak, sepatu seluncur es, barang pecah-belah, dan masih banyak lagi. Cukup kreatif. Namun, tidak ada hal baru yang dihadirkan film ini untuk segi aksinya. Rasanya, tidak jauh beda dari menonton film-film aksi biasa lainnya, bahkan bukan dengan embel-embel dunia John Wick. Tidak ada adegan yang memorable seperti empat film originalnya. Bahkan, di pertengahan, aksi mulai terasa hambar dan berulang. Kemunculan Keanu Reeves sebagai Wick sedikit jadi penyelamat, terutama untuk mereka yang rindu dengan aksi si Baba Yaga.
Menyamai kesuksesan John Wick, yang benar-benar menjadi kuda hitam saat perilisannya, jelas tidak mudah. Ballerina berusaha memenuhi ekspektasi orang-orang akan hal itu, tapi sayangnya masih sedikit meleset. Jika memang sekuelnya jadi dilanjutkan, semoga mereka bisa membuat cerita yang lebih memanusiawikan Eve, tapi sekaligus membuktikan bahwa dia sosok yang tidak bisa dianggap remeh.
