Shang-Chi and The Legend of the Ten Rings - Simu Liu Terlalu Manis, Tony Leung Jadi Jawara

by Prima Taufik 137 views

Shang-Chi and The Legend of the Ten Rings - Simu Liu Terlalu Manis, Tony Leung Jadi Jawara
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Jika Shang-Chi dibuat 30 tahun yang lalu, mungkin Tony Leung akan jadi superheronya.

Mencoba mencari karakter yang berbeda, pilihan Marvel jatuh pada Shang-Chi untuk diangkat ke layar lebar. Padahal, sedikit penggemar Marvel yang tahu karakter ini. Namun, karena sekarang sedang menggaungkan character diversity, mengangkat Shang-Chi adalah pilihan tepat. Kursi sutradara diserahkan pada Destin Daniel Cretton yang filmografinya tidaklah cukup mentereng untuk menggarap film berbujet besar, tapi Marvel sudah sering memberikan kepercayaan pada sutradara-sutradara belum terkenal untuk membesut film-film mereka. Siapa tahu, mereka beruntung seperti saat mempekerjakan Anthony dan Joe Russo. Lagi pula semua orang tahu semua film Marvel memiliki template yang sama, jadi sutradara tidak terlalu pusing lagi masalah kreatif karena sudah ada yang mengatur.

Banyaknya aktor Asia yang terlibat dalam film ini membuktikan jika mereka serius untuk mewujudkan latar belakang Shang-chi yang berbudaya Tionghoa. Sayangnya, beberapa aktor hanya muncul sebentar atau dimatikan, padahal akan bagus jika mereka dipertahankan. Penggunaan bahasa Mandarian dalam film ini juga menarik, tetapi lagi-lagi hanya tempelan. Wajar jika penggunaan bahasa Inggris dilakukan saat ada karakter non-Tionghoa di sana, tapi saat kumpul keluarga yang notabene semua adalah orang Tionghoa, entah kenapa mereka masih memakai bahasa Inggris sehingga kesan otentiknya menjadi luntur.


Pemilihan Simu Liu sebagai Shang-Chi adalah pilihan yang tepat-tidak tepat. Ia lebih terkenal sebagai aktor televisi, tidak punya latar aksi, dan wajahnya terlalu baik untuk memerankan Shang-Chi yang dididik keras sebagai pembunuh sedari kecil oleh ayahnya. Tidak ada bekas trauma pada wajah Liu saat ia menjadi Shang-Chi. Yang ada adalah wajah overoptimis yang selalu bahagia walau keadaan sesulit apa pun, kontras dengan cerita masa lalu Shang-Chi yang digambarkan keras dan pedih. Namun, untuk jadi pahlawan, wajahnya sudah pas. Cocok sebagai orang yang membawa optimisme pada khalayak. Bahkan, Meng’er Zhang terasa lebih pas memerankan adik Shang-Chi yang sama-sama punya masa lalu kelam.

Tanpa Tony Leung, film ini akan sangat membosankan. Akhirnya, Marvel berhasil mendapatkan karakter antagonis yang karismatik dalam jajaran cast mereka. Ya, Tony Leung membuat film ini menjadi berkelas. Karismanya sebagai pemimpin The Ten Rings memancar kuat meski sedang diam. Namun, di lain sisi, ia juga bisa tampil lembut dan penyayang sebagai seorang ayah. Marvel beruntung karena Tony mau bergabung di film ini. Ada satu adegan di mana Tony Leung tampak sangat berkarisma. Adegan ini juga ada di trailer, tapi saat dilihat utuh, hasilnya jauh lebih keren, yaitu saat Wenwu (Leung)membawa Shang-Chi kecil ke sebuah restoran. Di sini Tony mengenakan jas yang ujungnya dilipat sampai siku dan di bawah lengannya ada 10 cincin (atau gelang?) melingkar. Dengan berjalan pelan, Leung menjadikan adegan ini sungguh berkelas.


Dari segi cerita, rasanya tidak perlu dibahas karena semua film Marvel memiliki cetak biru yang sama untuk semua alurnya. Jadi, tidak akan ada kejutan yang mencengangkan sama sekali. Kalau pun ada, itu bukan dalam alur ceritanya. Yang harus dipuji dari Shang-Chi and The Legend of the Ten Rings ini adalah koreografi pertarungannya yang sangat asyik. Mengingatkan kita pada film-film kungfu era Jet Li dan Andy Lau zaman dulu. Gerakannya cepat dan saling serang terjadi tanpa jeda. Penonton dibuat fokus memperhatikan setiap gerakan dan jurus yang dikeluarkan. Harusnya, memang beginilah adegan bertarung di film-film bergenre martial art. Cepat, lugas, dan indah. Sayangnya, kelebihan film ini tidak digunakan sampai akhir. Alih-alih aksi baku-hantam yang menarik, kita malah disajikan suguhan CGI yang untuk ukuran zaman sekarang sudah terlihat sangat biasa. 

Tanpa mengecilkan peran aktor yang lain, bisa dikatakan tanpa Tony Leung, Simu Liu tidak akan sanggup mengangkat film ini. Interaksinya dengan Awkwafina memang lucu, tapi bukan itu yang ditunggu. Seperti biasa, ada dua adegan tambahan di pertengahan dan akhir film. Keduanya penting dalam memberi petunjuk akan seperti apa Marvel Fase 4 ini ke depannya.