The Kid who would be King: Penceritaan Ulang Kisah Legendaris Raja Arthur

by Dwi Retno Kusuma Wardhany 590 views

The Kid who would be King: Penceritaan Ulang Kisah Legendaris Raja Arthur
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Kini, tugas menyelamatkan dunia diemban bocah berusia 12 tahun.

Kisah legendaris Arthur dan Ksatria Meja Bundar rasanya merupakan salah satu legenda yang menarik minat, tidak hanya masyarakat Inggris saja, tapi juga pencinta film di seluruh dunia. Berbagai film mengenai kepahlawanan Arthur, yang dibantu Merlin, dalam melawan Morgana sudah sering diceritakan di berbagai film. Terakhir, ada garapan Guy Ritchie dengan pemeran utama Charlie Hunnam berjudul King Arthur: Legend of the Sword. Di tahun 2019 ini, muncul lagi dramatisasi kisah yang sama dengan penceritaan yang jauh berbeda.

Jika kebanyakan kisah-kisah King Arthur di layar lebar mengambil waktu Abad Pertengahan, kini sineas Joe Cornish (Attack the Block) membawanya ke Inggris pada masa modern sekarang ini lewat The Kid who would be King. Tidak hanya itu, pencabut pedang Excalibur kini adalah seorang bocah bernama Alexander yang ditakdirkan mencegah Morgana menguasai dunia.

Layaknya Attack the Block, para pahlawan dalam kisah ini adalah anak-anak yang dibebani tugas menyelamatkan dunia. Secara interpretasi, film ini memberikan sesuatu yang baru karena menggabungkan kisah legenda dengan dunia modern. Mengingatkan kita pada Percy Jackson yang melakukan hal serupa. Meski nama-nama besar di film ini hanya Patrick Stewart dan Rebecca Ferguson, akting keempat pemeran utamanya tetap menarik dan menghibur. Namun, sosok yang mencuri perhatian tentu adalah Merlin (Angus Imrie) dengan ucapan-ucapannya yang kerap mengundang tawa.


Film ini tidak melulu berkisah tentang perjalanan Alex dalam mengumpulkan sekutu dan usahanya menghancurkan Morgana. Ada juga interaksinya dengan sang ibu, kritik terhadap anak muda modern yang kerap tidak mau tahu kondisi lingkungan sekitarnya, dan juga penindasan di sekolah. Meski begitu, semua itu disampaikan secara halus dan nyaris tersirat sehingga penonton mungkin tidak sadar dengan pesan-pesan yang dihadirkan.

Meski setengah film berjalan cukup menarik, namun setengah durasi menjelang akhir terasa lambat dan memiliki banyak plot hole. Kekuatan Morgana dan pasukannya pun juga tidak terasa mengancam meski memiliki bentuk fisik yang cukup menakutkan. Bahkan, pasukan tengkorak berapi pun bisa dikalahkan oleh sepasukan bocah yang baru berlatih beberapa jam sebelumnya. Morgana yang digambarkan kuat dan menjadi lawan terberat King Arthur juga tampak lemah dan tidak memiliki rencana rumit untuk menguasai dunia. Fokusnya hanya membunuh Alex dan merebut Excalibur.

Dengan ratingnya yang aman untuk ditonton semua orang, orangtua bisa membawa anaknya menyaksikan The Kid who would be King ini tanpa harus khawatir ada adegan kekerasan. Namun, kisahnya yang mudah ditebak mungkin akan membosankan bagi orang dewasa yang menontonnya.